Blog / Info

Mengintip Tradisi Khas Ramadan di Negara-negara Berpenduduk Mayoritas Non-Muslim

Buddies

Jun 8, 2018

Intip Tradisi Ramadan yang Unik di Negara Berpenduduk Mayoritas Non-Muslim

Seru tentunya menyaksikan sekaligus menikmati berbagai tradisi khas Ramadan di Indonesia. Namun, ternyata bukan hanya Indonesia yang memiliki beragam tradisi khas Ramadan. Tradisi -tradisi unik untuk merayakan Ramadan juga dilakukan oleh warga di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim.  

Jika kamu kebetulan sedang menjalani ibadah puasa di salah satu negara tersebut, cerita berikut bisa menambah semangat berpuasa atau kemeriahan di bulan Ramadan.

Rusia

Dari total 146 juta jiwa penduduk Rusia, tidak sampai seperempatnya atau sekitar 20 juta di antaranya adalah Muslim. Saat Ramadan, warga Muslim di Rusia senang berbuka puasa dengan kurma dan roti yang diisi aneka masakan. Roti yang terbuat dari tepung dan berisi labu atau keju disebut khingalsh, sedangkan yang terbuat dari gandum disebut galnash.


Makanan tersebut sering disajikan dengan minuman kvass, yaitu minuman non-alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi dan dicampur dengan perasa buah. Minuman ini hadir hanya di bulan Ramadan.

India

Credit: www.republika.co.id
Ramadeen alias Ramadan di India ditandai dengan pria Muslim yang menghias mata mereka dengan kohl (sejenis celak mata). Mereka juga akan membersihkan rumah dan mengenakan pakaian tradisional yang disebut Kurta atau Salwar Kameez.

Selain penampilan yang istimewa, Ramadan di India dimeriahkan dengan menu favorit untuk berbuka puasa yaitu berbagai makanan yang menggunakan bihun dan bubur sebagai bahan utamanya.
Saat berbuka, hidangan berbahan bihun akan disajikan bersama dengan buah-buahan manis dan ganghui (sejenis sup yang dibuat dari terigu, beras, dan potongan daging). Sementara, menu untuk sahur biasanya haleem atau nonbu kanji, yaitu semacam bubur yang kaya rempah, serta minuman yang disebut harir (terbuat dari kacang-kacangan dan biji-bijian). Pastinya lezat dan mengenyangkan ya.

 

Jepang

Credit : https://www.nippon.com
Meski mayoritas penduduknya non-Muslim, namun, orang Jepang sangat menghargai warga Muslim yang berpuasa. Sejumlah perusahaan bahkan membolehkan karyawan Muslim untuk pulang kantor lebih cepat di bulan Ramadan. Pasalnya aktivitas kerja di Jepang sangat padat dengan waktu berpuasa yang panjang yaitu sekitar 19 jam.

Dan biasanya, setiap Ramadan war Muslim di Jepang akan berkumpul di Japan Islamic Center (JIC) di Tokyo. Selain kegiatan berbuka puasa bersama, umat Muslim yang berkumpul di sini biasanya menggelar aktivitas keagamaan seperti dialog keagamaan, majelis taklim, membagikan buku-buku keagamaan, dan salat tarawih berjamaah.

Tiongkok

Credit: http://decode.uai.ac.id
Umat Muslim yang bermukim di daerah perbatasan Tiongkok dan Turki kerap menyambut Ramadan dengan tradisi Muqam. Mereka menyanyi sambil memainkan alat musik tradisional setempat. Kemudian 1-2 orang menari mengikuti irama nyanyian tersebut.

Di sekitarnya ada plaza yang menjual makanan khas untuk berbuka puasa. Sambil menikmati tarian tersebut, warga bisa membeli makanan untuk buka puasa. Makanan untuk berbuka di Tiongkok umumnya mirip dengan makanan khas Timur Tengah, yaitu didominasi daging sapi dan kambing yang dibakar atau dipanggang. Selain itu ada juga niuroumian, sejenis mie daging sapi, yang tersedia di restoran-restoran Tiongkok menjelang waktu berbuka puasa.

Jerman


Sebagian besar umat Muslim di Jerman adalah pendatang dari negara-negara di Timur Tengah. Oleh karena itu, tradisi berpuasa di Jerman turut dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah, salah satunya Turki.

Contohnya saat berbuka puasa, hidangan yang disajikan adalah qata’ef (kue kering yang direndam sirup gula), dan kalladsch (adonan pilo isi kacang-kacangan), suus (minuman berbahan baku gula hitam), dschellab (gula dicampur sirup kurma), dan qamruddin (jus aprikot). Selain itu ada juga hidangan khas Maroko yang disajikan di masjid-masjid seperti sup Harira yang terbuat dari kacang-kacangan dan dilengkapi daging kambing atau sapi.

Untuk menu ringan seperti camilan, kami bisa berkunjung ke pasar tradisional di Frankfurt, Kleinmarkthalle. Beragam kue dan makanan yang diolah dari kurma dan buah-buahan.

Mesir



Beda halnya dengan Mesir, Ramadan di negara piramida ini dimeriahkan dengan warga memasang lampu tradisional (fanus)  di rumah mereka. Fanus adalah lampu yang terbuat dari kaleng dan gelas warna warni dengan lilin di dalamnya. Kerap disebut sebagai lampu Aladin.

Tradisi ini dilestarikan oleh umat Muslim di Mesir sejak zaman Dinasti Fattimiyah. Dahulu, fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja Mesir yang berkunjung pada Ramadan. Selain di rumah warga, fanus juga dipasang di jalan raya dan masjid-masjid. Bisa dibayangkan ya kota Kairo terlihat semarak dan indah di malam hari.

Explore more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *