Blog / Info, Tips

Menurut Buddies, Lebih Penting Mana, Skill atau Attitude?

Buddies

Oct 5, 2018

Buat kamu yang sering mengikuti aktivitas para netizen di dunia maya, pasti paham deh kalau ada saja hal menarik yang terjadi. Baru-baru ini, misalnya, saat seorang seniman mendapat kritik dari salah satu mahasiswi yang pernah studi di Jepang gara-gara dianggap sedang berkilah saat berbagi pengalaman menghadapi persoalan saat berkarya.

Pembahasan itu ternyata berlanjut panjang. Banyak netizen berpendapat, justru si mahasiswi yang enggak tahu menempatkan diri, bahkan kasar dalam percakapan itu. Dari awalnya pengungkapan diri si seniman, percakapan yang terjadi setelah itu malah menyoroti jawaban-jawaban tangkisan si mahasiswi.

Sampai-sampai, netizen mengingatkan si mahasiswi yang mengaku sebagai “bibit unggul” gara-gara mendapat beasiswa itu soal masa depannya kelak. Beragam komentar lain pun bermunculan. Salah satu yang menarik adalah komentar, “Wah, alamat bakal ditolak semua perusahaan waktu melamar kerja.” dari salah satu netizen.

Nah, loh! Memang ada hubungannya aktivitas kita di dunia maya sama urusan melamar kerja?

Jadi begini… Forum perekrut tenaga kerja, kolom pakar di media massa papan atas internasional, bahkan sejumlah riset, belakangan ini ternyata sudah sering membahas topik pilihan antara skill dan attitudedalam perekrutan pegawai baru. Kesimpulannya, mayoritas bersepakat, secara umum attitude memang harus ditempatkan di atas skill.

Baca juga: Jobbymoon: Refreshing Singkat sebelum Kamu Masuk Kantor Baru

Hasil riset yang digelar di Inggris pada 2010, misalnya, mendapati 96 persen perekrut mengedepankan attitude dibandingkan skill. Sebaliknya, riset yang sama mencatat, 60 persen pelamar malah lebih memilih skill lebih dulu dibandingkan attitude.

Pertanyaannya selanjutnya, apa sih yang dimaksud dengan skill dan apa pula maksud attitude dalam konteks ini?

Mark Murphy, penulis Hiring for Attitude yang juga telah menghasilkan buku best seller Hundred Percentersdan HARD Goals, dalam wawancara dengan Forbes edisi 23 Januari 2012 sudah mengindikasikan pentingnya attitude buat membuka jalan karier.

Murphy menyebutkan kalau 46 persen dari 20.000 pekerja baru yang disurvei ternyata gagal dalam 18 bulan. Nah, yang lebih mengejutkan lagi, 89 persen kegagalan mereka adalah karena alasan attitude dan hanya 11 persen yang disebabkan kekurangan skill.

Menurutnya, alasan attitude itu mencakup ketidakmampuan menerima arahan, kecerdasan emosional yang rendah, kekurangan motivasi, dan temperamen. Sementara itu, skill teknis tetap penting untuk perekrutan pegawai, namun kemampuan tersebut lebih gampang untuk ditakar. Cukup dengan tes kecakapan, kapasitas teknis calon pegawai pun sudah dapat diukur.

Hal ini berbeda dengan attitude yang memerlukan soft skillAttitude akan semakin baik atau malah memburuk akan tergantung pada kapasitas dalam soft skill. Tes kecakapan enggak akan dapat mengukur seberapa besar motivasi seseorang belajar hal baru, berpikir inovatif, menerima kegagalan, mengolah masukan dan arahan, atau berkolaborasi dengan kolega.

Baca juga: Kata Mereka yang Lebih Dulu Menjadi Pengusaha Muda

Sebagai contoh, Murphy bilang kalau seorang pegawai direkrut karena kecerdasan, pengalaman bisnis, dan ketajaman analisis keuangannya. Namun, semua keunggulan itu dinilai akan percuma kalau ternyata dia otoriter dan pengarah yang kaku, sementara tempat kerja barunya menempatkan keceriaan dan persahabatan di atas segalanya.

Terus, apa riset dan paparan yang disampaikan hampir satu dekade silam itu masih relevan sampai sekarang?

Subhash Iyer masih mengangkat topik ini dalam tulisannya di Linkedin pada 2017. Iyer menuliskan, attitudeyang baik akan membantu seseorang mewujudkan tujuannya. Bukan berarti attitude akan memastikan kemampuan teknis seseorang dalam pekerjaannya. Namun, pekerja berkemampuan teknis tinggi yang hobi menggerutu juga menghambat kerja tim.

Hal ini juga dibahas Business Insider edisi 22 Januari 2018 yang menuliskan, persoalan attitude bisa menyabotase karier seseorang. Seorang petinggi perusahaan saja bisa dipecat hanya karena masalah attitude, apalagi pegawai baru yang belum juga punya banyak kontribusi, bukan?

Baca juga: Lakukan 6 Hal Ini Untuk Menjaga Hubungan Persahabatan dan Pekerjaan

Dari sini, komentar kebablasan “mahasiswi bibit unggul” dalam cerita pembuka di atas seharusnya sudah memberikan peringatan kepada kita semua, terutama buat first jobber yang baru saja bekerja. Terlebih lagi, bukan rahasia pula bila perekrut kerja sekarang menjadikan penelusuran jejak digital pelamar kerja sebagai bagian dari verifikasi perekrutan karyawan.

Oleh karena itu, yuk, kita mulai belajar untuk menjaga attitude di mana pun, termasuk di media sosial untuk menjadi bekal di masa depan yang tidak cuma digunakan di lingkungan kerja, namun di mana saja kamu berada. Dengan ini juga kamu bisa menghindari hal-hal negatif agar semakin sukses dalam dunia kerja.

Jangan lupa juga, ada MyLife Buddies yang akan melengkapi asuransi kesehatan kamu, memberikan manfaat penggantian biaya rawat jalan, bahkan ada tambahan perlindungan penyakit kritis mulai dari Rp27.000/bulan. #AyoLoveLife dan rencanakan masa depan kamu agar menjadi talenta-talenta unggul di Indonesia.

Explore more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *